Opinion

Game Industries : The Good, The Bad, and The Greediest. Part 1 : All about MMO.

By BangMonyong on May 14, 2015

Kalau kalian agak bingung dengan judul dari artikel ini, agak wajar sih... Karena memang kali ini kami dari gamenivora tidak membahas langsung mengenai satu judul game, melainkan kami ingin membahas mengenai bagaimana satu perusahaan publisher / developer game mencari uang dengan game nya. Entah itu Buy to Play (the most common one...), Free to Play (biasanya MMO dan Mobile Apps), Ataupun Pay to Play (Subscription based, biasanya MMO). "Kok Free to Play juga masuk? Bukannya gratis ya mainnya?". Well gak salah kok kalau kalian ngomong gitu, karena untuk main game nya memang gratis, tapi biasanya ada micro transaction yang bisa kalian lakukan ketika in game seperti item cash mall atau VIP membership. Nah, sebelum introduction-nya kepanjangan, silahkan simak artikel pertama dari series The Good, The Bad, and The Greediest : All About MMO.

Merupakan salah satu evolusi terbesar di dunia gaming Indonesia, Massively Multiplayer Online games memang sudah ada sejak awal dekade 2000-an yang dimulai dengan Nexia. Game MMO pertama Indonesia yang diusung oleh Boleh Game ini menggunakan sistem subscription yang dimana kalian harus membayar untuk dapat memainkan game ini ketika melewati batas level tertentu (kalau gak salah level 60) per-bulannya. Daya tarik Nexia memang bukan pada grafis 3D yang keren, tetapi pada sisi Massive Multiplayer-nya yang menyediakan tempat bagi ratusan atau bahkan ribuan player untuk berinteraksi satu sama lain. Sehingga walaupun harus membayar biaya subscription yang gak murah, player Nexia pun cukup banyak. Tapi game ini langsung kalah pamor dengan satu game lain yang rilis pada tahun 2003, yep... Ragnarok Online muncul pada tahun 2003 dan gak salah kalau game yang satu ini dikatakan sebagai game MMO tersukses di Indonesia karena masih bertahan hingga sekarang (tahun 2015), dimana game MMO lain di Indonesia tidak ada yang bertahan selama itu. Dari sinilah pasar MMO Indonesia benar-benar berkembang hingga sekarang, tahun 2015, terdapat belasan atau mungkin bahkan puluhan game MMO yang dapat kalian mainkan.

Nah, terdapat berbagai macam cara bagi industri game untuk mendapatkan uang melalui game MMO mereka. Entah itu dengan sistem subscription (mesti bayar supaya bisa main untuk jangka waktu tertentu), Free to Play dengan item mall dan VIP membership nya, ataupun dengan sistem Buy to Play (yang ini sih agak jarang di Indonesia...). Well mungkin kalian bertanya-tanya, "Apa salahnya dengan sistem-sistem tersebut?". Yaaaa dibilang salah sih gak juga, karena memang sistem yang ada sekarang semuanya legal. Tapi kalian semua pernah ngerasa kalau ada sistem yang agak ngeselin gak sih? Contohnya sistem Item cash mall dari Free to play MMO yang sering menjual item-item yang terasa game breaking atau imba dan sistem VIP membership yang seringnya membatasi para non-VIP player untuk menikmati konten dari game tersebut secara seluruhnya. Yeah... you're not alone bro... Emang gak ada salahnya buat publisher game untuk mencari uang, karena memang uang tersebut gak cuma masuk ke dalam kantong mereka tapi juga untuk memelihara server dari game mereka dan untuk biaya operasionalnya. Pertanyaan dari kami kepada game publisher Indonesia "Apakah pantas bagi mereka untuk mengorbankan sisi "Balance" dari game mereka untuk mendapatkan uang tersebut?". Sebagai gambaran dan contoh saja: Point Blank sebagai salah satu game Free to Play yang cukup sukses di Indonesia memang menggunakan sistem item cash mall. Akan tetapi menurut kami, player yang tidak membeli item cash di game ini akan mengalami kesulitan untuk bersaing dengan para player yang membeli item cash. Contoh lainnya, Gunbound. Gunbound memang cukup sukses pada masa nya sebagai free to play MMO. Memang pada awalnya avatar yang ada di gunbound dapat kalian beli dengan in-game currency, tapi gak lama berselang Boleh Game mengganti sistem tersebut dengan sistem item cash yang dimana kebanyakan avatar yang ada hanya dapat dibeli dengan cash. Efek nya cukup buruk, karena banyak server avatar : On yang mulai sepi dengan berlakunya "kebijakan" tersebut. dari contoh-contoh diatas, sebagai player, kami sering kali merasa diperlakukan sebagai sapi perahan oleh para publisher MMO (dan jujur aja, kami sudah muak dengan cara-cara tersebut).

Selain contoh-contoh item cash mall diatas, ada juga beberapa contoh untuk game VIP membership yang menurut kami cukup ngeselin juga. Contohnya Phantasy Star Online 2 (walaupun bukan game publisher Indonesia, tapi ini memang salah satu game VIP membership yang paling gak beres) dengan sistem mereka yang sangat membatasi content access bagi para non VIP Membership player. Bayangin aja... kalian gak bisa melakukan trade dengan sesama player apabila kalian tidak memiliki VIP membership (dan player yang ingin kalian trade juga harus memiliki VIP membership juga...). Ada yang salah dengan sistem kayak gini... Satu contoh lagi yaitu ArcheAge... Walaupun salah satu Free to Play MMO terbaik saat ini, ada satu sistem yang menurut kami kurang baik. Yaitu sistem Labor Point-nya... Karena hampir semua hal yang kalian lakukan (terutama hal-hal yang berhubungan dengan ekonomi seperti crafting) menggunakan Labor Point, sayangnya hanya VIP player yang mendapatkan fitur increased labor points dan generate labor points ketika sedang tidak main. Non-VIP member cuma bisa gigit jari apabila dibandingkan dengan VIP member.

Tenang... gak semua Free to Play game itu buruk seperti contoh-contoh yang kami berikan di atas. Masih ada beberapa game Free to Play yang cukup ok... walaupun kebanyakan bukanlah MMO yang ada di Indonesia... Contohnya : Warframe, DotA 2(yang ini jatohnya MOBA sih... tapi masih Multiplayer dan online kaaan? :P), Dragon Nest, dan Tera Online. Game-game tersebut walaupun free to play tetap memberikan sense of "balance" dan BIG free content to go through, tanpa perlu membayar sepeserpun. Kenapa gak banyak game-game kayak gini di pasaran? Are the game industries too greedy for their own good? Tanyakan pada rumput yang bergoyang...

Well itu kan Free to Play, sekarang kami pengen ngebahas tentang satu sistem yang bisa dibilang hidup segan mati pun tak mau... Subscription based MMO. Emang gak bisa dipungkiri kalau hingga saat ini World of Warcraft tetap hidup walaupun sudah mencapai umur lebih dari satu dekade dengan sistem subcription-nya. Sedangkan banyak game-game tipe subscription lain yang entah mati ataupun goes to Free to Play. Contoh nya seperti Tera online, Ragnarok Online, Nexia, dan masih banyak lagi. Hal ini (mati nya Subscription based MMO) terjadi mungkin karena para player atau consumer lebih suka dengan sistem free to play... Walaupun biasanya subscription based MMO memiliki kualitas yang lebih baik dari Free to Play, gak bisa dipungkiri kalau membayar biaya subscription bulanan terkadang terasa berat bagi sebagian player. Belum lagi perasaan sayang apabila ketika kita sudah membayar subscription fee dan tidak memainkan game tersebut... Inget kaaan kalian yang pernah main Ragnarok Online atau Nexia dulu? Yang sampai ngebela-belain untuk bolos sekolah atau bahkan kantor untuk main game kesayangan kalian? Well, walaupun sekarang masih banyak anak sekolah yang ngebolos buat main di warnet, tetep aja gak seramai dulu. Karena emang kekurangan utama dari sistem subscription base ini lebih kepada time management yang harus dipikirikan oleh para playernya. Gak semua player bisa meluangkan waktu ditengah kesibukan mereka untuk tetap memainkan game subscription base hingga akhirnya menjadi downfall dari sistem ini.

Gak Free to Play, gak subcription semuanya punya kekurangan, tidak terkecuali sistem Buy to Play. Walaupun bisa dibilang gak begitu banyak game MMO yang mengusung sistem seperti ini, salah satu game MMO terbaik menurut kami menggunakan sistem ini... Guild Wars 2. Dengan berbagai macam free content dan update yang besar-besaran, Guild Wars 2 dengan sukses memberikan value for money yang sangat tinggi. Dengan tag US$ 60, kalian bisa menikmati berbagai macam konten gratis dan ratusan atau bahkan ribuan jam untuk memainkan game ini (kayak promosi gak sih ini? hahaha). Well, gak semuanya sih bisa kayak Guild Wars 2 (Buy to Play MMO). Karena ada beberapa buy to play MMO yang menurut kami memang gak worth the money juga, contohnya : Diablo 3. So many fiasco and controversial stuff that happens over the year for this game. Mulai dari shaky release, Real money trading house, lack of contents, dan gak sesuai dengan hype-nya, Diablo 3 menurut kami gak cocok untuk di banderol US$ 40... Kenapa? Karena banyak Diablo-clone game lain yang bisa memberikan sesuatu yang lebih dibandingkan Diablo 3. Sebut aja Path of Exile dan Torchlight series which not only bigger, but also better in a sense.

O iyaaa ampir kelupaan, ada satu sistem yang mulai muncul akhir-akhir ini... dan walaupun bisa dibilang "membantu" para developer maupun publisher untuk men-develop game mereka, sistem ini menurut kami cukup buruk. Yeah, we're talking about Early access & founder pack. Memang ada beberapa early access yang gak perlu bayar, tapi banyak early access yang mengharuskan kalian bayar untuk bisa memainkan game tersebut (yang walaupun beberapa game tersebut pada akhirnya FREE TO PLAY alias GRATIS). Sebut saja Echo of Soul yang di-publish oleh Aeria Games atau Skyforge yang di-publish oleh My Games. Intinya sih kayak beli kucing dalam karung, kalian belum tahu hasil jadinya nanti bagaimana... entah bagus entah jelek, tapi sudah dimintai uang oleh mereka... A bit ridiculous eh? Well sistem early access sebenarnya gak beda jauh dengan sistem closed beta / beta dalam tahap pengembangan suatu game dan kita dapat membantu pengembangan game tersebut dengan menjadi beta tester. Tapi kayaknya kurang pantas kalau kalian harus membayar sejumlah uang untuk dapat memainkan versi beta (bahkan terkadang ada yang masih versi alpha) dari game tersebut. Just our opinion.

Well let's put a close to this discussion (lebih mirip ke ngoceh gak jelas sih daripada diskusi ...). Menurut kami masih banyak hal-hal yang bisa di-improve oleh publisher Indonesia dengan sistem Free to Play yang diusung oleh mereka. Let's face it, terlalu banyak game MMO "murahan" yang beredar di Indonesia saat ini dengan sistem yang masih kurang baik pula. Apa gak ada publisher yang bisa memberikan win-win solution untuk para player nya? Bagaimana menurut kalian? Jangan takut untuk mengutarakan pendapat kalian di Comment box di bawah yaa.

Tags: